
PESISIR MEDIA.COM, BANJARMASIN – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan mencatat inflasi di Kalimantan Selatan pada Februari 2026 sebesar 0,86 persen secara bulanan atau month to month (mtm) dan 5,97 persen secara tahunan atau year on year (yoy).
Informasi tersebut disampaikan melalui unggahan akun Instagram resmi Bank Indonesia Kalsel pada Rabu, 4 Maret 2026.
Bank Indonesia menjelaskan bahwa inflasi pada Februari tercatat lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya. Kondisi ini dipengaruhi meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat menjelang bulan Ramadan dan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan, Fadjar Majardi, mengatakan inflasi terutama dipicu kenaikan harga pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, khususnya emas perhiasan.

“Inflasi terutama didorong oleh kenaikan harga emas perhiasan sejalan dengan meningkatnya harga emas global yang dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik dunia,” ujar Fadjar Majardi dalam keterangannya.
Selain itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga turut menyumbang inflasi, terutama akibat kenaikan harga daging ayam ras. Kenaikan tersebut dipengaruhi proses transisi kebijakan impor bungkil kedelai sebagai bahan baku pakan ternak.
Meski demikian, tekanan inflasi pada Februari 2026 turut tertahan oleh penurunan harga pada sektor transportasi. Kelompok transportasi tercatat mengalami deflasi seiring turunnya harga bensin setelah kebijakan penurunan harga BBM non-subsidi yang berlaku sejak 1 Februari 2026.
Bank Indonesia mencatat rata-rata harga Pertamax turun dari Rp12.770 per liter pada Januari menjadi Rp12.220 per liter pada Februari 2026 atau turun sekitar 4,3 persen secara bulanan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat inflasi di sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan juga bervariasi. Inflasi tertinggi tercatat di Kabupaten Tabalong (Tanjung) sebesar 1,34 persen, disusul Tanah Laut sebesar 1,09 persen, Hulu Sungai Tengah sebesar 0,82 persen, dan Banjarmasin sebesar 0,76 persen. Sementara itu, inflasi terendah tercatat di Kabupaten Kotabaru sebesar 0,60 persen.
Untuk menjaga stabilitas harga, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Kalimantan Selatan terus memperkuat langkah pengendalian inflasi.
Upaya yang dilakukan antara lain operasi pasar dan gerakan pasar murah untuk komoditas strategis, penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), pemberian subsidi ongkos angkut dalam mendukung program gerakan pangan murah, serta pelaksanaan rapat koordinasi pengendalian inflasi bersama para pemangku kepentingan dan pelaku usaha.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan ketersediaan pasokan dan stabilitas harga, khususnya menjelang Ramadan dan Idulfitri, sekaligus menjaga daya beli masyarakat di Kalimantan Selatan.



