
Pesisir media.com, Banjarbaru – Banjir yang terjadi sepanjang 1 hingga 15 Januari 2026 merendam ratusan hektare persawahan dan tanaman pangan di sejumlah wilayah Provinsi Kalimantan Selatan. Pemerintah daerah mempercepat langkah revitalisasi sektor pertanian, termasuk pemberian bantuan bibit kepada petani terdampak.
Berdasarkan data insidentil banjir padi, Kabupaten Tanah Laut menjadi wilayah terdampak terluas dengan lahan sawah tergenang mencapai 361,5 hektare yang tersebar di Kecamatan Tambang Ulang, Pelaihari, Bajuin, Bumi Makmur, dan Kurau. Pada lahan Oplah dan CSR juga terkena banjir di persemaian sebayak 1950 kg (hasil pantauan/ pengamatan POPT ( pengendali organisme pengganggu tumbuhan)



Selain Tanah Laut, banjir juga berdampak pada persawahan di Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Tapin, Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Selatan, serta Barito Kuala. Di Kabupaten Banjar, Kecamatan Astambul tercatat benih semai yang terkena banjir hingga 1.500 kilogram, sementara di Kabupaten Tapin, Kecamatan Binuang terdampak banjir seluas 134 hektare.
Tak hanya tanaman padi, sektor hortikultura turut terdampak. Data banjir hortikultura 2026 mencatat total luas lahan terdampak mencapai 485,52 hektare, dengan luas puso sebesar 47,82 hektare. Komoditas jeruk menjadi yang paling luas terdampak, disusul sejumlah komoditas sayuran seperti cabai dan daun bawang.
Kepala Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Selatan, Lestari Fatria Wahyuni, mengatakan revitalisasi pertanian pascabanjir dilakukan melalui sejumlah langkah, salah satunya penyaluran bantuan bibit dan benih bagi petani terdampak.

“Selain bantuan bibit, kami juga melakukan pendampingan teknis dan optimalisasi lahan agar petani bisa segera kembali menanam dan produksi pangan tetap terjaga,” ujarnya.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan bersama pemerintah kabupaten/kota terus berkoordinasi untuk mempercepat pemulihan sektor pertanian dan menjaga ketahanan pangan daerah di tengah cuaca ekstrem.



